Wah, Maret ya....
Ternyata tanpa perlu ditunggupun Maret datang dengan sendirinya. Saya bahkan tidak ingat kemana bulan Januari dan Februari itu pergi. Bagaimana tidak? Februari ini bukan hanya cantik tapi juga penuh dengan kesenangan. Tidak.. tidak... saya bukan penganut perayaan V’day atau semacamnya. 14 Februari lalu datar-datar saja qo.
Tapi dalam Februari, ketika semua berkumpul, mereka menggulung saya kedalam tawa, tak hentinya berbicara tentang kenangan. Februari, hujan yang tak hentinya di bulan Februari-saya selalu suka hujan, saya puas menikmati hujan deras dari dalam bis MGI di tol Cipularang saat perjalanan pulang. Februari, bebas dari kelas TLS di Jumat pagi bersama Mrs. Nan! Ah, Februari yang begitu cantik!
Saya memutuskan untuk tidak melalui Maret dengan pesta atau lara. Setelah 28 hari yang singkat, saya sedang menunggu 31 hari yang panjang di depan.
Entah apa yang akan dilakukan di Maret. Apakah saya masih duduk di beranda rumah saya sendiri?
Rasanya begitu enggan berpisah dengan Februari yang manis dan cantik.
Mungkin dalam Maret nanti, saya berusaha mengatasi penyakit Writers’ Block yang saya hadapi. Saya mulai gila cari ide. Prolog yang saya kerjakan di Januari lalu, plotnya hancur! Mungkin ini dikarenakan saya terbebani oleh isi cerita novel pertama dan kedua. Tentang kelanjutan mimpi si perempuan – Arheina Pramaya.
No, ini sama sekali bukan mimpi Arheina, ini mimpi saya, bukan ini yang Arheina butuhkan!
Saya kini sadar, betapapun saya ingin memberikan ending yang bahagia untuk teman imaginasi saya-Arheina, saya tidak bisa menemukan letak kebahagiaannya karena menyelesaikan mimpi bukan sebuah deadline yang harus ada pada waktu tertentu. Menyelesaikan mimpi adalah sebuah kesenangan, menulis untuk sebuah tujuan yang baik.
Baik, Maret nanti mungkin akan menjadi awal yang baik untuk memulai sebuah prolog baru....
Amiin.
28.2.09
26.2.09
where r u
Saya terbiasa mengunjungi sebuah halaman setiap kali menginginkan keberadaan dia di kedai ini.
Kursor bergerak pada wajahnya yang semakin tidak familiar.... membaca komentar-komentar atau pesan dari kawan-kawannya yang tidak saya kenal.
Dia bertemu dengan bayak orang, entahlah mungkin sekarang dia telah bertemu dengan seseorang, saya memilih untuk pura-pura tidak tahu dan tidak bertanya macam-macam.
Saya meninggalkan sebuah jejak, kita sedikit berbicara tentang kawan-kawan, impian, masa depan, tapi kita tidak pernah sekalipun mengangkat topik mengenai kita dalam pembicaraan. Kalau masa lalu tidak bisa membawa dia kembali, saya ingin masa depan yang membawanya.
(Saya kangen sms yang penuh dengan titik-titik sebagai pemisah kalimat.)
But you know what, ternyata waktu demi waktu perbedaan smakin jelas terlihat.
Saya merasa semakin jauh, wajar kalau saya fikir sekarang ini ketidakhadirannya menyerupa seperti bayangan yang berkelebat ketika memandang keluar jendela mobil yang melaju dalam kecepatan 100mil/jam. Samar-samar. Tapi dia ada.
Disinilah saya sekarang.... hampir lima tahun yang lalu, tapi saya masih bisa mengingatnya dengan intensitas yang cukup jelas seolah dia baru datang kemarin sore.
Seperti mati rasa, kalau dia fikir dia kembali datang dan bisa mempermainkan saya lagi dia salah besar. Saya memang masih berdiri tepat didepan setumpuk kenangan 1825 hari-hari lalu. Ditengah setumpuk surat, di dalam deretan pesan singkat dalam satu folder khusus, nomor ponselnyapun yang saya hafal diluar kepala.
Kini kami berdua berdiri dalam ‘beda’, jaraknya hampir 3.000 mil jauhnya dari garis tempat kami berdiri dulu.
Tak apa, bukankah kita semua membutuhkan jarak? Sudahlah, dia bukan siapa-siapa.
Atau mungkin ini adalah sebuah bentuk lain dari kecemburuan saya, that keeps I reluctant to meet somebody new.
Kursor bergerak pada wajahnya yang semakin tidak familiar.... membaca komentar-komentar atau pesan dari kawan-kawannya yang tidak saya kenal.
Dia bertemu dengan bayak orang, entahlah mungkin sekarang dia telah bertemu dengan seseorang, saya memilih untuk pura-pura tidak tahu dan tidak bertanya macam-macam.
Saya meninggalkan sebuah jejak, kita sedikit berbicara tentang kawan-kawan, impian, masa depan, tapi kita tidak pernah sekalipun mengangkat topik mengenai kita dalam pembicaraan. Kalau masa lalu tidak bisa membawa dia kembali, saya ingin masa depan yang membawanya.
(Saya kangen sms yang penuh dengan titik-titik sebagai pemisah kalimat.)
But you know what, ternyata waktu demi waktu perbedaan smakin jelas terlihat.
Saya merasa semakin jauh, wajar kalau saya fikir sekarang ini ketidakhadirannya menyerupa seperti bayangan yang berkelebat ketika memandang keluar jendela mobil yang melaju dalam kecepatan 100mil/jam. Samar-samar. Tapi dia ada.
Disinilah saya sekarang.... hampir lima tahun yang lalu, tapi saya masih bisa mengingatnya dengan intensitas yang cukup jelas seolah dia baru datang kemarin sore.
Seperti mati rasa, kalau dia fikir dia kembali datang dan bisa mempermainkan saya lagi dia salah besar. Saya memang masih berdiri tepat didepan setumpuk kenangan 1825 hari-hari lalu. Ditengah setumpuk surat, di dalam deretan pesan singkat dalam satu folder khusus, nomor ponselnyapun yang saya hafal diluar kepala.
Kini kami berdua berdiri dalam ‘beda’, jaraknya hampir 3.000 mil jauhnya dari garis tempat kami berdiri dulu.
Tak apa, bukankah kita semua membutuhkan jarak? Sudahlah, dia bukan siapa-siapa.
Atau mungkin ini adalah sebuah bentuk lain dari kecemburuan saya, that keeps I reluctant to meet somebody new.
Langganan:
Postingan (Atom)