Tampilkan postingan dengan label fikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fikiran. Tampilkan semua postingan

25.3.09

DETAIL KECIL DI PAGI HARI

Yang membuat saya bahagia hari ini adalah . . . . dia.

saya menemukannya tanpa sengaja pagi tadi. Menyenangkan....


Kemarin, saya tidak pernah berani menatap matanya. Tapi tadi kami bertukar pandang dan tersenyum. Tapi kami tetap terdiam, dan saya memandangi punggungnya sampai bayangannya menghilang menjadi sekeping sunyi. Tapi itu begitu cukup untuk memberi warna merah muda dalam hari.


Saya sadar, hari ini saya tengah berani menghadapi babak baru dalam hidup. Ketika saya membiarkan hati bebas dari masa lalu, dengan membiarkan kebahagiaan kecil masuk, uh, saya tidak bisa menggambarkan bagaimana rasanya. Saya Cuma tersenyum simpul.


Ternyata pagi memberikan hadiah yang luar biasa untuk saya. Hadiah yang terlalu mahal. Dia, mentari, burung berkicau, senyum, anak-anak bermain bola, aku. Andai saja ada yang mengabadikan momen itu serupa foto blur.... tapi ya sudahlah....


Saya menghela nafas panjang-panjang. Baiklah, ini Cuma satu hal sederhana yang bisa membuat saya senang bukan main. Saya bertekad melanjutkan hari ini dengan kegembiraan yang lain.

Hari ini saya sedang berusaha memaknai hidup dari detail-detail kecil.



Note :

Mr. A Kudo... masa lalu memang selalu menjadi candu. Tapi, qta terlanjur berdiri dalam beda...

2.3.09

berubah

...So little time
Try to understand that
I'mTrying to make a move just to stay in the game
I try to stay awake and remember my name
But everybody's changing and I don't feel the same....


Apanya yang berubah?Saya masih menjadi saya qo. Saya masih suka permen fruitella aneka rasa buah, hujan-hujanan, berjalan bertelanjang kaki menjejakan diri di atas rumput pagi yang penuh titik-titik embun lalu menegadahkan diri kelangit menghirup semesta merangkum keindahan pagi.
Saya juga masih tak bisa menolak secangkir lemon tea. Mengirimkan kartupos. Mengkoleksi struk belanja. Suka drama korea.
Photografi.....
Terkadang memang saya sibuk sendiri dengan berbagai aktifitas baru, tapi saya selalu menyempatkan untuk mengintip keberadaan kalian lewat surat elektronik, meninggakan jejak di halaman beranda rumah kalian, menulis di dinding, mengomentari status, lewat pesan singkat, panggilan yang tak terjawab . . . .
Iya, jangan takut, saya masih menjadi saya.

28.2.09

Ujung Februari - Menunggu Maret

Wah, Maret ya....
Ternyata tanpa perlu ditunggupun Maret datang dengan sendirinya. Saya bahkan tidak ingat kemana bulan Januari dan Februari itu pergi. Bagaimana tidak? Februari ini bukan hanya cantik tapi juga penuh dengan kesenangan. Tidak.. tidak... saya bukan penganut perayaan V’day atau semacamnya. 14 Februari lalu datar-datar saja qo. 
Tapi dalam Februari, ketika semua berkumpul, mereka menggulung saya kedalam tawa, tak hentinya berbicara tentang kenangan. Februari, hujan yang tak hentinya di bulan Februari-saya selalu suka hujan, saya puas menikmati hujan deras dari dalam bis MGI di tol Cipularang saat perjalanan pulang. Februari, bebas dari kelas TLS di Jumat pagi bersama Mrs. Nan! Ah, Februari yang begitu cantik! 

Saya memutuskan untuk tidak melalui Maret dengan pesta atau lara. Setelah 28 hari yang singkat, saya sedang menunggu 31 hari yang panjang di depan.
Entah apa yang akan dilakukan di Maret. Apakah saya masih duduk di beranda rumah saya sendiri?
Rasanya begitu enggan berpisah dengan Februari yang manis dan cantik.
Mungkin dalam Maret nanti, saya berusaha mengatasi penyakit Writers’ Block yang saya hadapi. Saya mulai gila cari ide. Prolog yang saya kerjakan di Januari lalu, plotnya hancur! Mungkin ini dikarenakan saya terbebani oleh isi cerita novel pertama dan kedua. Tentang kelanjutan mimpi si perempuan – Arheina Pramaya.

No, ini sama sekali bukan mimpi Arheina, ini mimpi saya, bukan ini yang Arheina butuhkan!

Saya kini sadar, betapapun saya ingin memberikan ending yang bahagia untuk teman imaginasi saya-Arheina, saya tidak bisa menemukan letak kebahagiaannya karena menyelesaikan mimpi bukan sebuah deadline yang harus ada pada waktu tertentu. Menyelesaikan mimpi adalah sebuah kesenangan, menulis untuk sebuah tujuan yang baik. 

Baik, Maret nanti mungkin akan menjadi awal yang baik untuk memulai sebuah prolog baru....

Amiin.

26.2.09

where r u

Saya terbiasa mengunjungi sebuah halaman setiap kali menginginkan keberadaan dia di kedai ini.
Kursor bergerak pada wajahnya yang semakin tidak familiar.... membaca komentar-komentar atau pesan dari kawan-kawannya yang tidak saya kenal.
Dia bertemu dengan bayak orang, entahlah mungkin sekarang dia telah bertemu dengan seseorang, saya memilih untuk pura-pura tidak tahu dan tidak bertanya macam-macam. 
Saya meninggalkan sebuah jejak, kita sedikit berbicara tentang kawan-kawan, impian, masa depan, tapi kita tidak pernah sekalipun mengangkat topik mengenai kita dalam pembicaraan. Kalau masa lalu tidak bisa membawa dia kembali, saya ingin masa depan yang membawanya.
(Saya kangen sms yang penuh dengan titik-titik sebagai pemisah kalimat.)

But you know what, ternyata waktu demi waktu perbedaan smakin jelas terlihat.
Saya merasa semakin jauh, wajar kalau saya fikir sekarang ini ketidakhadirannya menyerupa seperti bayangan yang berkelebat ketika memandang keluar jendela mobil yang melaju dalam kecepatan 100mil/jam. Samar-samar. Tapi dia ada.

Disinilah saya sekarang.... hampir lima tahun yang lalu, tapi saya masih bisa mengingatnya dengan intensitas yang cukup jelas seolah dia baru datang kemarin sore. 

Seperti mati rasa, kalau dia fikir dia kembali datang dan bisa mempermainkan saya lagi dia salah besar. Saya memang masih berdiri tepat didepan setumpuk kenangan 1825 hari-hari lalu. Ditengah setumpuk surat, di dalam deretan pesan singkat dalam satu folder khusus, nomor ponselnyapun yang saya hafal diluar kepala. 

Kini kami berdua berdiri dalam ‘beda’, jaraknya hampir 3.000 mil jauhnya dari garis tempat kami berdiri dulu.

Tak apa, bukankah kita semua membutuhkan jarak? Sudahlah, dia bukan siapa-siapa.
Atau mungkin ini adalah sebuah bentuk lain dari kecemburuan saya, that keeps I reluctant to meet somebody new.

15.1.09

If life is a river and your heart is a boat.
And just like a water baby, baby, born to float,
and if life is a wild wind that blows way on high,
Kalau saja, hati adalah sebuah rumah, maka saat ini aku sedang duduk di teras. Menatap rumah yang telah setelah sekian lama ditinggali, yang didalamnya tersemat serangkaian cerita. Pernah kamu-bayangan seorang lelaki asing, sembilan tahun yang lalu mengetuk pintu rumah, jejaknya sampai saat ini terpatri disitu.

And your heart is Amelia dying to fly,
Heaven knows no frontiers and
I've seen heaven in your eyes.
And if life is a bar room in which we must wait,

round the man with his fingers on the ivory gates
.
Rumah adalah tempat dimana hati mu berada. Ada kalanya kita tak lagi bisa menampung hal baru terjadi dan menjadi tidak nyaman karenanya. Mungkin ini saat yang tepat untuk berbenah, memperbaiki atap yang rusak, mengganti, dirubah, membangun yang baru.

Where we sing until dawn of our fears and our fates,
and we stack all the dead men in self addressed crates,
in your eyes faint as the singing of a lark.
Bukankah kita membutuhkan jarak? Tapi, seberapa jauh? Seberapa lama? Seberapa banyak? Seberapa kita akan tahan dengan jarak itu?
Ayolah, aku hanya perlu tahu... aku tak mau hidup dengan harapan. Jika bukan dalam kenyataan, aku sudah tidak punya ekspentasi terhadap apapun. Setidaknya sekarang aku sedang berproses. Aku berevolusi. Aku belajar. Dan jika pelajaran itu usai, mungkin aku akan merindukanmu.

That somehow this black night,
feels warmer for the spark,

warmer for the spark,

to hold us 'til the day.

Sampai kapan aku akan duduk di beranda rumahku sendiri?
Sementara lembayung, senja, dan langit, sebentar lagi akan menurunkan kelam, menurunkan pekat, menurunkan hitam, menurunkan Malam.
Masa depan. Tak perlu membuang kenangan. Tapi aku tidak akan lagi hidup dengan kenangan. Hidup terus berjalan ada atau tak adanya kamu.
Bukankah aku telah belajar. Berproses. Berevolusi.
Aku akan tumbuh bersama euforia masa depan.

When all will harmonise.
And you know what's in our hearts,

the dream will realise.
Heaven knows no frontiers,
and I've seen heaven in your eyes.
Ketika ritme hidup menjadi sangat nyata. Dan kesempatan adalah ketika kita mencoba menyusun setiap fragmen hidup. Maka ketika aku tahu apa yang menjadi tujuanku, mungkin aku tidak menginginkanmu lagi. Mungkin menyenangkan bisa mengingatmu disuatu waktu. Ada atau tidaknya kamu.
Hidup berjalan lurus ke depan. Masa depan itu jamak bukan tunggal.
Akupun akan berdiri, berbalik, masuk ke rumahku lagi, membiarkan daun pintu terbuka sedikit celah.
Dimasa depan.
Akan ada seseorang yang mengetuk rumahku dengan lembut. (Mungkin bukan kamu) Ya, karena masa depan itu jamak bukan tunggal. Pasti akan ada masa depan yang indah untuk menutup masa lalu.



*) Heaven knows (No Frontiers) by The Corrs. Dicetak miring.




14.1.09

mencari sahabat

Aku mencari dua sahabatku.
Yang pertama, dia adalah seorang sahabat kecil.
Dia adalah murid pindahan dari Cirebon yang kebetulan pindah ke SD yang sama denganku. Hari pertamanya sekolah, dia tidak berbicara terlalu banyak, kepalanya selalu tertunduk, mungkin masih malu,
dia mengenalkan dirinya sendiri,
“Nama aku Gani Hafiyanto, panggil saja Gani.”
Iya, namanya Gani. Gani Hafiyanto. dia lahir di Cirebon, 11 Juni 1989. dia jangkung, tampan dan ikal. Dia terlihat lebih dewasa.
hua... ternyata aku masih mengingatnya dengan sangat baik.
Kami mempunyai banyak persamaan. Sama-sama hobi berat membaca, berjalan kaki, membuat miniatur kapal-robot dari kertas dan memanjat pohon. Dia dan mamanya tinggal sementara di rumah adik Mama-nya (Bu Luki/Tante Luki), yang berjarak lima rumah dari rumahku. Lambat laun aku tahu, ternyata kepindahannya ke sini dikarenakan kedua orang tuanya berpisah, dia memilih ikut tinggal bersama mamanya. Lambat laun aku juga bisa memahaminya, tahu apa yang dia suka dan apa yang dia benci, dia juga tahu apa yang aku suka dan aku benci.
Sebenarnya cukup banyak teman-teman lain di lingkungan rumah kami, mirip geng anak-anak atau kelompok bermain, gara-gara dia aku jadi ikut aktif bermain di luar rumah. Tetapi persahabatanku dengan Gani terasa lain. Jika diibaratkan gelombang radio, seakan kami berada pada gelombang yang sama. Ada sesuatu yag khas, seperti suatu pengertian yang lebih mendalam, keakraban yang tumbuh dalam diam. Dia lebih dekat denganku dibandingkan dengan teman-teman kelompok bermain kami yang lain. Mungkin karena dulu aku anak tomboi yang spontan, penggeli, penyayang binatang, dan suka berdebat. Atau karena sesuatu yang lain, entahlah... aku sama sekali tidak tahu, karena pada saat itu segala sesuatu megalir seperti air.
Gani itu pendiam, sedikit angkuh dan pemikir. Dulu dia tidak bisa pergi tanpa topi, t-shirt, dan celana Hawaii. Dia akan sangat tampak sangat sopan dan tenang jika sedang berbicara dengan Mama-ku atau dengan tantenya. Tapi, dia juga bisa jadi sangat nakal. Ia dan aku adalah dua pemanjat yang ulung, berdua kami bergelantungan di pohon jambu batu di belakang rumah tantenya. Pada waktu itu, dia selalu berjanji akan datang kerumahku untuk bermain, rumahku adalah surga mainan dan komik katanya. Inilah yang aku katakan sebagai saat-saat indah yang tak terlupakan.
Pada musim layang-layang, aku da Gani bermain di lapangan kecil disebelah rumahku. Di sana ada sebuah pohon besar untuk berteduh. Gani menaikan dan mengendalikan layang-layang sementara aku jadi keneknya.
Kami bermain sepeda merajai jalanan.
Dia mengajariku cara cepat berhitung.
Dia punya koleksi buku dan komik yang lumayan banyaknya. Kadang komik kami akan sama. Dan tentang komik dan buku kami selalu berbagi.
Ada hal-hal yang membuat aku merasa spesial baginya. Diantaranya, ia selau menjadikan aku sebagai peminjam pertama buku-buku barunya, pendengar pertama tebak-tebakannya, dia berbagi kue bekalnya denganku, dan dia pernah memberikan ku sebungkus permen fruitella aneka rasa buah! –dan itulah alasan kenapa aku suka permen Fruitella, kawan.-
Tetapi, saat-saat indah itu hanya ada tiga setengah bulan saja.
Mamanya punya pekerjaan dan rumah tetap di Bandung (di daerah Metro). Akhirnya kami berpisah. Itu adalah kali pertama aku kehilangan seorang sahabat.
Aku menyesal menolak ajakan mama untuk mengunjungi Gani di hari kepindahannya. Saat itu aku hanya menangis dibalik jendela.
Terakhir kali kami bertemu, pada Januari yang dingin di tahun 2003. Dia sudah tinggi menjulang, memakai kacamata, dan dia bercerita, dia jadi ketua OSIS di SMPN 1 Cirebon.
Semoga dia tetap baik-baik saja dan tak kurang dari satu apapun.
Never Ending Story, Gani. Dari aku, sahabatmu...

Gani, shall we meet again?

***


Yang kedua,
Namanya Iko. Dia tampak sangat Chinese dan sebagaimana anak-anak Chinese, ia putih dan bermata sipit.
Dia teman sebangku-ku di kelas 3 selain Widy.
Dia satu-satunya orang yang memanggilku kate.
Dia memanggil dirinya Mr.Detele Lose.
Dia pintar bahasa Inggris+Matematika.
Dia suka komik.
Dia suka komputer.
Dia Ragnarok lover (dulu!).
Dia suka Mochacinno yang dipesan dari jendela kelas.
Dia meminjamkan payung untukku.
Dia yang menunggu pulang bersama.
Dia teman dengan seribu mimpi dalam kertas-kertas sisa yang kami tulisi.
Dia yang kita ciptakan sebuah yel-yel (Hamtaro duduk sama Yudho/Hobynya minum Mochacinno/Apa yang paling dia senangi/Vina,Vera atau Isnie...)
Dia yang bercita-cita jadi seorang programmer.
Dia yang selalu minta di traktir makan siang di GIM.
Dia yang mengirimkan pesan singkat siang dan malam.
Dia yang menelfon di Minggu pagi, cuma untuk memberi tahu kalau dirumahnya ada ribuan kupu-kupu kuning.
Dia selalu mengabarkan keberadaanya.
Dia yang dikhawatirkan Mamanya –Mamanya malah tlp Lia nanya dia ada dimana, taunya ke rumah Vina sama Yudho. Huh, bikin orang kaget+khawatir!-.
Dia yang nggak romantis! Masa ngasih Lia kaktus sebagai tanda persahabatan katanya, udah gitu ngasih kaktusnya yang dikasih sama Agah ke dia, ngasih pemberian orang sama orang lain its not polite....!!!???
Dia yang suka Melly Goeslaw.
Dia yang nyuruh beli Gatsby biru di pagi buta.
Dia yang nguntilin kemanapun Lie dkk pergi.
Dia punya penyakit flu aneh yang datang 2 tahun sekali, aneh ya?
Dia yang bikin syok waktu mimisan. (Tau nggak sih, Lia lari-lari ke ruang guru, ngasih tau klo Ico mimisan, trus atas saran bu Lilis Sulis, Lie disuruh cari daun sirih, eh Lie yang panik+buta dedaunan malah bawa daun anggur. Mimisannya bukan berhenti malah tambah banyak! Besoknya Ico nggak sekolah deh...)
Dia yang suka Vina, tapi Vinanya suka sama Osward, tapi Osward suka Yezha, Yezhanya suka sama Syarif, tapi Syarif deket sama Voilla, Voilla temen Vera, Vera suka sama Ico, tapi Ico suka sama Vina... hahaha ? Ico...masih suka sama Vina nggak??
Dia yang janji mau nonton Eiffel I’m in Love bertiga ke Bandung. Tapi nggak bisa!
Dia yang jalan dengan dua tangan dilipat kebelakang tas.

Huh, bagaimanapun qta pernah bersahabat, terlibat Junior High School Romance, serta menghabiskan sisa-sisa ketololan masa SMP bersama.
Dia ada dimana sekarang?
Ada yang tahu??

11.12.08

Anomali Rasa

10 Desember 08
23.47
Perempuan itu berjalan dengan masa lalu berat di pundaknya. Sepertinya syaraf-syarafnya sudah tidak berfungsi. Ia tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, tidak bisa bersuara, tidak bisa merasakan apa-apa. Kecuali rasa sakit dihatinya. Ia bisa merasakan yang satu itu, sakit sekali...
Perempuan sekarang ada disebuah jendela yang terbuka lebar-lebar pada suatu malam. Ia memandangi kosong ke bawah. Ia hanya ingin dirinya jatuh. Setelah itu, tak ada lagi. Rasa sakitnya juga akan hilang. Ia tidak akan merasakan sakit lagi.
Satu. Satu kali dorongan saja.
Tetapi tubuhnya tetap terpaku ditempat.

“Aku akan melelehkan benteng ego yang kau rajut sekian lama, lelaki. Lain kali aku akan memberimu pertanda agar engkau tetap tinggal. Aku tak bermakna lebih, selain lembanyung sore yang ku hembus dari padang rumput...”

Perempuan berusaha mengatur nafasnya sedemikian rupa.

“...Kisah ini digambarkan sebagai selembar permainan puzzle yang terdiri dari 2920 keping. Dengan ceroboh, ketika bermain di kepingan 2555, sisa kepingan 365 mendadak hilang. Kehilangan yang sesali pada saat ini di masa depan, ketika aku mulai sibuk mencari, dalam tumpukan buku harian di sudut kamar, dalam potongan-potongan gambar tentangnya (dia yang sedang tersenyum lebar, mengerutkan kening, mengusap hidung, membaca buku, membetulkan letak kacamata. Atau dia yang sedang panik), dalam suara-suaranya(dia yang tertawa, berbicara dengan serius, sedang membaca Al-Quran atau berguma sendiri ditengah gejolak fikirannya), dalam kotak masuk pesan singkat, daam urutan kontak. . . . aku terus mencari . . . ironisnya, saat ini aku malah merasa bahwa kepingan-kepingan sisa yang hilang tidak pantas untuk dicari.”

saat itulah secuil kendali diri perempuan yang rapuh termakan waktu akhirnya hancur berkeping-keping. Menyerpih menjadi 365 kepingan yang hilang –ternyata disana, kepingan itu berada, perempuan tidak tahu, perempuan tidak tahu-. Dan tangisnyapun pecah. Ia membenamkan wajahnya dalam dua tangannya dan tersedu-sedu. Ia tidak bisa menahan tangisnya walau dia ingin. Ia hanya berharap sepenuh hati rasa sakit dan kepedihannya akan berkurang walau sedikit. Karena perempuan itu senungguh tidak tahu apa lagi yang bisa dilakukannya terhadap lubang besar yang menganga didalam dadanya. Tempat hatinya memunguti, mengumpulkan, -dan secara tidak sadar- menyembunyikan kepingan itu.
semakin ia menangis maka semakin sakit dadanya. Rasa sakit didadanya kian menusuk. Nyaris tak tertahankan.
Perempuan tak sanggup menahannya lagi.
Ia kembali mencondongkan tubuhnya kedepan. Menatap permukaan tanah dari tempatnya berdiri. Tangannya yang berpegangan erat pada kusen jendela perlahan mengendur.
Disaat yang bersamaan, jendela tertutup rapat-rapat.

11 Desember 08
05.24
Pagi hari.
Yang perempuan tidak tahu.
Angin menerbangkan 365 kepingan yang hilang. Kepingan itu menyusun diri melanjutkan permainan yang belum selesai dimainkan oleh perempuan. Hingga akhirnya papan puzzle itu membingkai suatu gambar hidup yang lengkap-utuh. Gambar itu kemudian memutar sebuah rekaman kehidupan . . . .

Satu windu yang lalu.
Seorang perempuan dan seorang lelaki duduk terpisah menghadap pada jendela besar di sebuah perpustakaan. Masing-masing hanyut dalam dunianya.
Lelaki yang membaca buku. Perempuan yang menunggu.
Mereka adalah dua sosok yang tengah menapaki jalan masing-masing dengan pandangan lurus kedepan – pada jendela besar. Tetapi perempuan itu, tanpa benar-benar mengetahui apa yang ia dapatkan dari duduk selama itu, menunggu – kepada ia yang entah kapan selesai membaca buku.
Perempuan itu nyaman dalam diam. Dia suka lelaki itu duduk disampingnya. Menemani dalam diam. Tapi lelaki tidak merasa nyaman berlama-lama diam. Secara perlahan dia menjauh. Lelaki tidak memberikan tanda bahwa akan pergi. Lelaki seolah tak acuh ada sosok perempuan yang menunggunya sedari ia duduk membaca buku.
Lelakipun pergi.
Masih dalam diam. Perempuan merunduk mendapati lelaki yang dia tunggu, pergi.
Jangan pergi . . . jangan pergi . . .
Ia hanya bisa memohon dalam hati sementara lelaki tanpa berbalik terus berjalan pergi.
Kumohon jangan pergi ... Tetaplah tinggal
Isakan pertama melompat keluar dari tenggorokan dan ia membekap mulut dengan tangannya. Tetapi melihat punggung lelaki yang semakin menjauh, dia tidak bisa sama sekali mengendalikan tangisnya.
Hari berganti hari, minggu, bulan-entah berapa purnama, hingga hari ke 2920. Perempuan tidak beranjak dari tempat semula, kakinya mulai kesemutan. Untuk pertama kalinya, ia ingin tahu apa yang ada diluar jendela, ia ingin memandangi jendela dari sudut yang berbeda, tampaknya ia mulai lelah terus memandang lurus kedepan. Baru kali ini ia merasa ingin mencari sesuatu yang lain, yang belum pernah dia tahu. Kemudian ia memutuskan menyingkirkan meja didepannya, membuka selot jendela yang berkarat, ia merasakan sebentuk oksigen yang melintas ruang grafitasi bumi perlahan masuk melewati celah jendela yang dia buka, menyapu lembut wajahnya, mengibaskan helai-helai rambutnya. Sembari memandang, matanya menghapiri sepanjang jalan dan sudut kota yang gelisah, dia menemukan lelaki itu di situ, di sebuah bangku taman kota, membaca buku, tapi tak sendiri, disampingnya ada seorang perempuan-tetapi bukan dia. Dari situlah semua berawal dan menemukan akhir.
“Ijinkan saya untuk jatuh cinta lagi dengan seseorang selain kamu”
Ucapnya lirih, sembari menutup jendela itu rapat-rapat, memadamkan satu persatu lampu, menurunkan kerai-kerai dan meletakan secara terbalik bangku-bangku berkaki tiga diatas meja.
Perempuan itu pergi.


Rekaman gambar itu pun berhenti, suasana perpustakaan yang gelap dan dalam ruangan yang kosong itu terlihat kepingan hati yang tertinggal dan barangkali memang sengaja ditinggal disana. Di sebuah tempat dimana perempuan menghabiskan hampir semua harinya, untuk menunggu.



=PERMAINANPUN SELESAI=

6.12.08

hope

Seandainya masih ada harapan - sekecil apapun - untuk mengubah kenyataan, aku bersedia menggantungkan seluruh hidupku pada harapan itu…


Selama dia bahagia, aku juga akan bahagia. Sesederhana itu …

8.10.08

The Beginning Of An End

Sempat terfikir untuk menutup kedai ini, berhenti mengagumi senja dalam coretan aksara, merobohkan teras belakang, membuang kanvas dan cat lukis, menyimpan tripod dan camera digital, meninggalkan selusin album, tak adalagi secangkir latte, tanpa appetizer-main course-atau dessert lagi. ‘coz all that’s left has gone away and there’s nothing there for anyone to prove.

Tapi, kalau ini harus ditutup karena sebuah keadaan, bukan keadaan yang seperti ini yang aku inginkan. Nanti saja, mungkin nanti ada pemilik kedai lain yang akan mengurusnya dengan sangat baik –hei, ternyata ada yang mencintai kedai ini melebihi aku pemiliknya-.
Saat itulah, saat yang tepat Ra. Tapi bukan saat ini. Aku percaya, si pemilik baru akan mengubah taste kedai ini jauh lebih baik.


Apa aku merasa bahagia sekarang?
Awalnya nggak. Tapi lambat laun, ada tanpanya atau tiada tanpanya semua sama qo... lucu ya, ketika kita tak pernah bicara lewat kata bertatap muka, ketika dalam diam, persuasinya tetap sama ketika dalam tujuh tahun yang lalu, enam tahun yang lalu, lima tahun yang lalu, empat, tiga . . . hingga saat ini. Adakah kata untuk menggambarkan ‘perasaan’ yang tepat seperti saat ini? Sudahlah, sudah lelah kuhapus. Banyak warna yang tertumpah, hingga warna lain tidak berkesan lagi. Sudahlah, mau diapakan lagi? kali ini aku tak akan peduli . . . . .

Sekarang waktunya bekerja keras kembali, aku tak mau mengecewakan siapapun, banyak sekali pekerjaan yang harus aku lakukan. Aku tak akan berhenti menemukan sisi-sisi lain dalam diri.
Esok aku akan kembali mengajar di sekolah dasar kecil belakang rumah. Mengajarkan sebuah bahasa yang berbeda dari belahan dunia lain kepada pendar-pendar kecil yang hangat dan penuh senyuman. Semoga saja mereka semangat mendapatkan pelajaran dari Bu Lia ini. "Good Morning Miss!"
Esok akan ada sebuah perwalian besama Bu Lungguh Halira Vonty-dosen wali diiringi pertanyaan-pertanyaan yang melebar dari “Kenapa baru perwalian sekarang Lia...? bosan kuliah?.”
Esok, I’ll make my own financial plan. Aku terlalu boros!
Esok akah ada sebuah prolog untuk novel ke 3, aku ingin menulis untuk sekedar membuka mata imajinasi, berbagi sebuah masalah dalam tulisan yang apik, aku ingin menulis karena dalam tulisan itu aku sendiri yang berhak menentukan epilog seperti apa yang akan terjadi. -Egois ya?-
Esok ada harapan baru. Seperti yang Andrea Hirata tulis di Sang Pemimpi. Tuhan tahu, tapi menunggu. seperti dalam doa-doa ketika bersimpuh di alas hijau. Tanpa perlu berkata-katapun, DIA paham apa yang ada dalam benak ini
“Tuhan, hatiku rapuh, tolong kuatkan aku...”

Epilog : Suatu Senja

1 pesan diterima
Baca

As. Sometimes i open ur blogs by disPhone. Sory 4 my Mistek 4 about 7yrs. I know u but u don’now me actualy. Forget me please & entrust anything just 2 Allah. Was

Dari :
unname
+62813xxxxx
02.10.2008
00:23


Sampai tadi malam aku terjaga.
Fikiran tengah sibuk memilah-milah, apa yang salah dan apa yang benar.
Setelah meletakan kacamata ditempatnya dan mematikan ponselpun, aku sulit terpejam.
Di luar, angin melintas ruang gravitasi bumi, menyapu wajahku yang basah oleh peluh.
Di luar, angin menerbangkan daun-daun kering di pelataran, ingin rasanya terbagi menjadi serpihan kecil, sekeping dari mozaik dan milyaran yang lain. Menunggu perputaran senja agar bisa menjadi utuh kembali.
Rasanya aku tak bisa menahan kepalan tanganku lagi, jadi aku mengijinkannya jatuh - butiran air hangat leleh di pipi. Pecah tanpa suara.

adakah cara untuk meminggirkan rasa,
adakah cara untuk menepis rasa,
adakah cara untuk mengusir rasa,
adakah cara untuk melupakan rasa,
adakah cara untuk menghapus rasa,
adakah cara untuk mengganti rasa,
adakah cara untuk mengobati rasa?

Terbuat dari apakah kenangan itu? bisakah sekarang ini semua kenangan dibungkus dengan rapih dan di hanyutkan dalam arus terdalam? Bisakah kita sekalian memastikan bermuara dimana, apakah disana ditempat yang jauh hingga tak bisa kembali?
Terbuat dari apakah kenangan itu? bisakah kita membuat kenangan baru yang jauh lebih baik? Tanpa harus meminggirkan? Menepis? Mengusir? Melupakan? Menghapus? Mengganti? Mengobati? Tanpa ada yang merasa sakit?
Terbuat dari apakah kenangan itu? adakalanya kita memang tidak bisa selalu berdiri di tempat yang sama. Mungkin ini saatnya. Kamu dengan kamu. Aku dengan aku.
I gotta keep it strong before the pain turns into fear.

Hhh... diantara mata yang memberat, menghela nafas
Sesaat kemudian

Back to message
Reply


I though, its important being honest. I’m sry if i did mistakes to u..
U dont hv to apologize, u nvr did smthin wrong, rite?
Yupz, km bnr, hrsnya dr dulu km larang aku utk mengingatmu.
Knp br hr ini?
Tapi tak kurang dari satu apapun mengenalmu adalah bagian terbaik dalam hidup.

Baik-baik ya,
Lia



Send – unname - Cancel - Close – Save to draft



NB : kalau suatu saat km baca semua ini tolong beri tahu aku ‘caranya’?

7.3.08

When The Dawn Comes Tonigth (HOPE) its a Memory Only

Beberapa minggu dah berlalu....dari insiden kemaren (re : post sebelumnya).
Gee, semenjak tau hal itu dari [Do], at first gk tau harus ngasih reaksi kaya apa waktu ngebaca emailnya. brasanya dunia jadi gelaappp bangedh. Hati Lie kalut. Lie nggak bisa ngelakuin apa-apa cm natap monitor dengan mata yang berkaca-kaca!
kali ini X minta bertemu cuman sama [Mie] aja&aku gak boleh ikut... never mind...demi dia, apapun akan aku lakuin...cz aku dah sayang banget sama dia... pertemuan kedua ini...si x nitipin CD....& bilang ke [Mie] kalau yang boleh ngerti isi dari CD ini cuman [Mie]... aku kesel banget....
tapi [Do] nggak mau tau posisi Lie kaya apa
Lie kasian sm [My Lost Friend]. Lie bisa ngerasain pasti sakit ada diposisi itu. jauh lebih baik throw me into the darkness cell. Put me in front of the firing squad, hang me on the hang pole. Karena rasanya pasti lebih sakit dari itu. jauh lebi terluka dari Lie . . . .
Dan Ternyata keputusan Lie reply email dari [Do] adalah keputusan yang salah. Seandainya waktu itu Lie memutuskan utk TIDAK TERLIBAT jauh (lagi). STOP sampai disitu! Mungkin klo Lie bisa memanipulasi perasaan Lie saat itu dengan bersikap seolah nggak tau apa-apa –seperti biasa-, dia nggak bakalan nanya panjang lebar yang mengharuskan Lie ngejawab pertanyaannya. Seandainya Lie nggak kenal sama [MLF] atau Lie ini bukan temen [Mie], mungkin akhirnya gk kaya gini. Mungkin dengan Lie nggak tau ‘whats going on?’ Lie nggak akan merasa terluka.
Dan taukah kalian . . . yang paling nggak abis fikir sikapnya [Do] yang seenaknya ngasi tau [Mie’]! Yang notabenenya adalah salah satu Subjek cerita yang ada di email qta. Huppps . . . . . . sumpah! He though its escape . . .
Hal yang selama ini jadi big secret between Mizz Icih dan diri sayah sendiri. Sekarang Lie ngerasa semua orang ngetawain Lie. Tau masalah Lie!!! Adduh, dunia Lie selain gelap jadi tambah sesak aja.
[Do] itu egois tau nggak?! Cm karena dia nggak mau lost his realitionship sm [Mie]. Dia ngorbanin Lia. Orang yang Lie kira isa keep masalah Lie. Orang yang Lie kira isa diajak temen sharing yang tepat buat masalah ini. Malah ngecewain Lie. I did something stupid karena mau percaya gitu aza sama orang yang baru Lie kenal. I did something stupid soalnya dah mau cerita panjang lebar tentang masa lalu kelam kehidupan Lie. Buat kedepannya Lie cm mau percaya sama Mizz Icih! Lie trauma sama kejadian ini. Bener-bener trauma. Lie jadi paranoid sama keadaan sekitar. Lia takut....
Belakangan ini Lie mencoba menghindari mereka semua. Dia, dia dan dia. Bukan mau lari dari masalah tapi Lie nggak mau menciptakan masalah yang lain . . . lagian Lie mau introspeksi sama diri Lie sendiri. Bagian mana yang salah, dan pemecahannya menurut diri Lie sendiri.
((Thx to Mizz Icih, si Onet kuw, si pengertian . . . yang selalu aza ngasih ruang utk menggerutu sepanjang minggu. Padahal Lie tau Mizz Icih ini punya masalah juga. Tapi hebatnya, dia malah bantuin Lie. We solve the problem together. Tapi saran yang dia kasih utk klarifikasi masalah bersama-sama gk aqu ikutin. Tapi, tanpa mengurangi apapun Thx kyu so much Cih! I luph u . . I luph u . . . cm km yg isa Lie andalkan))
Sepanjang minggu setelahnya Lie mulai menganalisis. So, why I must listen her? Katanya setelah [Mie] dikasi tau hal itu. Dia malah mau minta maaf plus mau b’terimakasih sama Lie.... Hhh...udahlah! nggak guna juga minta maaf atau terimasih utk itu yang ada Lie malah makin ngerasa bersalah. Malahan waktu dia tlp Lie ngak angkat, abisnya waktu itu di tlp disaat yg nggak tepat dan Lie juga lagi nggak niat angkat. Sekalinya Lie angkat. Lie ngebahas hal yg nggak penting bangedh!! Emang keliatannya konyol dan “Pliss dehh...!!” Lie cm nyoba bersikap biasa. Berusaha ngelupain yang terjadi. Iya, seolah-olah nggak terjadi apa-apa. Lie bungkus semua kejadian dengan selembar kain putih masukkan ke peti. (sekali lagi) mencoba berusaha untuk menutup dan mengunci rapat-rapat. Atau mungkin dengan berbekal sbuah ‘buku harian baru’ mari Qta buka lembar pertama dan isilah dengan cerita-cerita indah. Sudah. Setelah ini nggak ada lagi.
I know i said too much about this.. but trust me, this week is just worst *serius*. Well, i’m just human... I’m just ordinary people. Hati Lie nggak sekuat baja, nggak bisa dimaenin seenaknya. Lie ga mampu ngerubah takdir. Ga mampu ngerubah apa yang udah diputusin sama orang lain. Ga mampu ngerubah nasib sendiri sesuai apa yang Lie pengenin sepenuhnya. Pada akhirnya, Lie cuma bisa belajar dari peristiwa ini.
Belajar? Yah, belajar memahami perasaan sendiri. Belajar memahami perasaan orang lain. Belajar menerima keadaan sesulit apapun. Dan belajar percaya kalo suatu saat keadaan akan berputar lagi.
hm.. Lie sering mencoba ngelupain itu semua. Sampai akhirnya kejadian ini yang bikin Lie memutuskan untuk nggak menoleh2 lagi ke belakang, sambil mikir... well... it's the end of the road... sudah saatnyah istirahat...
So, conclusion, eeh... salah... kesimpulannya:
--Don't ever look back to the PAST-
Masa lalu itu ada untuk kita belajar memperbaiki kesalahan. Kesalahan, emang bisa dimaafkan, tapi ngga bisa diubah. Semua sudah terjadi dan akan selalu menjadi kenangan terburuk. Masa lalu itu untuk belajar buka untuk diungkit atau utk dimanfaatkan. Mungkin dia bisa memaafkan Lie malah *katanya* sampai berterimakasih segala, tapi dia mungkin ngga bisa menghilangkan semua yang pernah terjadi di antara kita. Never.
[Mie] maaf buat semuanya. Tuh kan, Lie bukan sahabat yang terbaik buat kamu. Lie salah uda nyoba masuk ke ruang yg belum tentu diijinin masuk. Dari pertama Lie emang uda lancang. Tapi sekali lagi, Lie selalu berusaha make it be better than before. Lie selalu mencoba memperbaiki semuanya. Tapi Lie selalu gagal. Seolah Lie ngulang kesalahan yang sama. Termasuk yang kemarin. Kemarinnya lagi. Dan kemarin-kemarin. Maaf buat semuanya. Penyesalan itu datangnya tak tepat. Makanya ketika penyesalan itu datang. Lia cm bisa menarik nafas dari rongga terdalam. Ditiup keras-keras keudara, siapa tau rasa itu sedikit berkurang. Tapi ternyata sia-sia. Cuma tinggal waktu yang jadi penawarnya. Sekali lagi maaf . . .
Then, I beg to Allah. Semoga kejadian ini tak tagi terulang di masa depan. -amien-

Reset kehidupan :
Kembali ke kehidupan enam tahun yang lalu,
Di Jalan Empang No.3 – di Nedus – di kelas 1C
(tempat Lie sama [Mie] pertama kali ketemu dan kenal)
Tentunya, akan dimulai dari, "Hai, namaku..."

Case Closed.

SEDETIK LAGI AKU DEPRESI

I try to be an ordinary people with my simple life and simple think... tapi Nyi ‘Icih *sekali lagi namanya disamarkan biar gk jadi terkenal* bilang klo waktu itu Lie emang lagi dikuasain esmosi aza.
Icih : lu yg salah, makanya klo mau nyerita sesuatu itu boh ya difikirin dampak kedepannya toh ndok.... jadinya kaya gini kan?
Lia : iaaa.......... aqu salah aqu salah.... abis aqu kebawa perasaan bu...
Icih : uda ky gini baru nyesel....
Lia : truz Lia mesti gmn?
Icih : Hmmmm......
Lia : Iciiiiih!!!!
Icih : Apa?
Lia : Bantuin . . . . Lia mesti gmn?
Icih : disatu sisi lu yg dimanfaatin, disatu sisi lagi nyadar nggak sih lu itU . . . idup itu berat cing!
Lia : uda tau... idup itu berat... udah ah... Lia mesti gmn?
Icih : minta maaf
Lia : W H A T ?? siapa minta maaf siapa??
Icih : gk mau?? Klo gitu let’s life flow the air... anggap aza masalahnya gk pernah ada
Lia : Hah?
Icih : mulai idup baru
Lia : lari dari masalah gittuuuu??
Icih : bukan lari dari masalah tapi menghindari masalah, biasanya juga kaya gitu?!
Lia : ~ ~ ~
Biasanya klo dah melakukan perbincangan dengan si Icih, fikiran Lie jadi jernih . . . tapi kali ini tumben malah jadi tambah keruh . . .
Dan ujung-ujungnya saran Icih yag tadinya sarannya nggak begitu Lie suka dilakonin (juga!)
Yah, mau gmn lagi???
Sebenernya, icih pengen Lie ngehadepin masalah sendiri. Dan saran yang dia kasih diatas itu nyidir sikap Lie yang selama ini ngehindarin masalah. see, dia sebenernya perhatian khan sama Lie...???
Flash back kebelakang
Sebenernya dari dulu dia dah ngasih ALERT supaya Lie nggak eksis diantara mereka.
“Jangan terlalu deket sama co’na, profesional dunk Lie. Jgn sampai gk bs lagi ngebedain pertemanan sama urusan pribadi.” Atau “Lie ngebalesnya jangan pake hati” atau “Posisi Jeng!!” atau ......... Hua, si Icih ternyata bisa ngeramal kejadiannya berakhir spt ini, klo aja dulu Lie ngedengerin dia. Dan sebenernya masalah ini uda lama berlalu. Perlahan Lie mulai keluar dari lingkaran mereka. Uda mulai ngelupain perasaan Lie . . .

Tapi kenapa????

Akhirnya Lie semakin menarik jarak dengan mereka . . . iya, mereka . . . yang masuk seenaknya kedalam hidup Lie. Tiba-tiba ketika semua selesai. Aku yang ditinggal sendiri. Tak lagi memikirkan sebesar apa luka yang ditinggalkannya, terkunci rapatkah, atau siapa yang akan mengobati lukanya. Mereka yang NGGAK sekalipun mikir betapa sakitnya Lie!!