11.9.08

long road


Hari ini ada perjalanan panjang ba’da Ashar, tadinya aku fikir aku bisa bertahan dirumah sendirian. Tapi ternyata aku masih takut ditinggal sendirian. Buka puasa sendiri, tarawih sendiri, sahur sendiri. Ada perasaan sepi. Jadi kuputuskan saja ikut pulang ke Bogor.Untung AA datang. Jadi ketika dia datang aku langsung berhambur kearahnya.
“Ade ikut ke Bogor yaaa.....”
“Kenapa? Kemarin waktu mama ke Bogor ngotot nggak mau ikut. Sekarang mau pulang. Katanya bisa sendirian dirumah? Katanya masih betah? Katanya belum puas?” Kakakku ini pasti dalam hatinya tertawa puas.
“Mana barang yang mau di bawa? Udah disiapin? Masukin mobil sana.”
senangnya, aku diperbolehkan ikut. Buru-buru aku mengepak barang, sebenarnya tak banyak barang harus disiapkan.Aku hanya tinggal berias saja. poles sana poles sini, tabur sana tabur sini, eyeliner tipis . . .
Yups, sekarang aku sudah lebih dari siap.


***


Mobil bergerak cepat. Aku duduk di belakang. AA duduk di depan. Di samping kanannya ada Pak Dodi memegang kemudi. Raut mukanya cemas. Dia khawatir terjebak macet dipuncak, jadi harus bisa melewati puncak sebelum jam lima fikirnya. Puncak di malam minggu atau bukan dimalam minggu selalu saja macet. Jadi sesekali aku terpekik dan tersentak dari tidur kalau di rem mendadak.


Mobil bergerak pelan. Pasar Cipanas macet. Di luar banyak yang berlalu lalang. Menjelang magrib, orang-orang sibuk membeli makanan untuk berbuka. Tapi hei, ada pemandangan menarik dibalik sebuah cermin cembung. Ada seorang anak yang duduk melingkar di pundak lelaki paruh baya, mungkin itu ayahnya. Kuturunkan jendelanya sampai penuh. Ayah, dan si anak yang ada dipundaknya berjalan melewatiku. Si anak menoleh dan tersenyum. Ah, Rabu sore yang cantik, dengan seburat senyum dari pemilik pundak ayah. Dan ada kalanya aku mau duduk dipundak Papa, sambil makan aromanis, sambil jalan-jalan menikmati sore, sambil berceloteh. Seperti anak itu . . .




Mobil bergerak cepat lagi. Angin kencang masuk kedalam mobil lewat jendela yang terbuka penuh dan pohon-pohon disekitar jalan meliuk kesana kemari. Buru-buru aku naikkan kaca jendela. Dan tak lama hujan turun mencuci sore. Titik-titik airnya membekas di kaca. Hhh... Menghela nafas panjang. Dan tertidur lagi, menunggu magrib. Siapa tau aku bermimpi aku naik dan duduk di pundak Papa. Sambil makan aromanis, sambil jalan-jalan menikmati sore, sambil berceloteh. Seperti anak itu . . .

2 komentar:

Ovan mengatakan...

ovan berkunjung di kedai mbak Lia. lagi kangen om ya mbak? kesini aja, ada papa ovan dirumah, ada mas pradipta, pasti kangennya hilang!

pemilik kedai mengatakan...

iya Ovan, kangen kumpul bareng Pradipta's Fam lagi, seru!