22.12.08

Gift From God


Aku menyebutnya Mama.
35 tahun yang lalu beliau meminjamkan rahimnya kepadaku. Mempertaruhkan hidupnya di Agustus untuk seorang lagi penghuni bumi.
Mungkin diantara kalian ada yang lebih akrab menyebutnya dengan panggilan,
Ibu, Bunda, Ummi, Inang, . . .
Tapi, aku dan kakakku, besannya, teman sejawatnya, pemilik warung kelontong di depan Gg., Ibu-ibu sayur, Bang Lutfi, Bang Ari, Bibik ... lebih mengenalnya dengan sebutan Mama. Iya, semua orang boleh menyebutnya ‘Mama’.

Kalian tahu, dua tahun terakhir, senyumnya selalu menjadi penutup malam, dia membetulkan letak selimutku, merapihkan poni rambutku dan mengecup rambutku dengan lembut dan hangat. Senyum Mama meninggalkan rasa damai dan membuatku terpejam sampai esok hari. Saat ini, berada terpisah ribuan jengkal dengannya membuatku kehilangan rutinitas itu.

Senyum mama tidak terhenti dalam rutinitas malam. Ketika aku pergi kesekolah. Saat membawa rapotku. Lomba membaca puisi. Membaca artikel ku yang dimuat di koran. Menyantap dadar buatanku. Proses perizinan ke luar rumah. Saat pengumuman hasil SPMB. Saat harus meninggalkannya pergi ke Bogor. Semua tidak lepas dari senyum Mama. Baginya tidak penting aku kalah atau juara dalam lomba. Enak atau tidaknya masakan yang aku buat. Perlu pergi atau tidak. Senyumnya adalah tanda ‘Belajar yang rajin’, ‘Ya, kamu hebat’, ‘Bagus, tulisanmu bagus’, ‘Enak nak..besok mama pesan lagi ya!’, ‘No,no,no jangan pergi malam’ dll. Senyumnya bisa berarti ‘Ya’ bisa berarti ‘tidak’. Tapi tak apa, aku suka senyum Mama.

Mama dengan segala ketegarannya, menaungi kami, aku dan kakak laki-lakiku. Sendirian.
Kepergian Papa hampir sepuluh tahun yang lalu, menyiratkan duka yang dalam, dan membuat kami tumbuh bersama satu orang tua. Entah kekuatan apa yang membuatnya tetap tegar sampai saat ini. Mungkin tempaan waktulah yang membentengi hatinya supaya terus kuat.

Dulu, aku dan dia sering sekali berselisih paham. Kami bertengkar hebat pada suatu malam. Pintu-pintu yang tertutup dengan keras. Tak ada komunikasi selain saling berteriak. Tapi saat ini, kami saling mendekap satu sama lain. Karena tak ada yang lebih indah dari kebersamaan, bukan? Saat ini, ketika perdebatan diantara kami terjadi, ketika berselisih faham, aku dan dia akan menepi sejenak ke dapur. Saling membuatkan minuman. Dua cangkir kopi, dua cangkir hangat wedang jahe, dua cangkir coklat panas atau kadang kami bertukar cangkir, menyesapnya berlama-lama, dan sesekali kami tersenyum.

-disini, tak ada lagi yang bisa aku ajak berdebat Ma… tak ada yang mengakhiri dengan saling bertukar ‘cangkir’… seperti kita…-

Dibalik semua perbedaan yang aku dan Mama punya, kami berdua saling melengkapi satu sama lain. Seperti maxi dress berwarna ungu yang Mama pilihkan untukku(yang tidak aku suka) dengan bolero hitam berkosase putih pilihanku. Seperti dua cangkir yang berbeda isi. Kita saling melengkapi, bukan? Hati kita saling mengisi dan tangan kita saling bertautan.


Hubungan kita berkembang begitu rupa. Ajaib. Tak perlu sepatah katapun untuk mengungkapkan apa yang diingini, apa yang dirasakan, dan apa yang terjadi. Mama mampu memahami. Entah bagaimana tangan Tuhan bekerja disini. Entah bagaimana dia mampu memelukku dan berkata, “Tak perlu menunggu selama itu untuk lelaki.”
Aku Lia. Perempuan. 19 tahun. Terlalu sulit untuk mengungkapkan kehidupan pribadiku kepada Mama. Tapi tanpa berceritapun Mama bisa memahami.
Karena lelahmu jadi lelahku juga, bahagiamu bahagiaku pasti*
Mungkin ini yang disebut telepati antara Ibu dan anak.

Kita sama-sama menyukai Dewi Lestari, factory outlet di Jalan Riau Bandung dan cangkir-cangkir penuh isi.
Kuharap aku bisa menghabiskan banyak hari bersamanya. Berburu Subuh di mesjid agung. Mengaji bersama. Menonton kembali ‘Badai Pasti Berlalu’. Pergi ke salon. Mengobrol di teras rumah sambil menyesap cangkir-cangkir dan setoples biskuit. Menonton televisi sambil tidur-tiduran. Tamasya ke Bali. Membaca buku fiksi. Lalu apa lagi Ma?

Kiranya begitu banyak persamaan yang kita punya, kita memang begitu berbeda, perbedaan akan selalu ada. Tapi kita tak kuasa untuk tidak bersama. Aku heran kenapa tidak dari dulu kita seperti ini. Bukankan kita tidak perlu beradu mulut, meneteteskan airmata. Kenapa tidak dari dulu, kita mendekat satu sama lain.

Jika esok aku masih bertemu hari, aku akan berbisik pelan padanya. Mencium punggung tangannya. Mengucapkan terima kasih yang sangat karena telah memberi pendidikan yang cukup pada ku. Telah mewariskan kebijakan dan kesabaran. Membesarkanku dengan penuh cinta. Membaluriku dengan budi pekerti. Terima kasih yang sangat karena telah tertawa bahagia dengan titik bening di sudut mata; saat aku pergi, saat tulisanku dimuat di surat kabar harian, saat pembagian rapotku, saat aku sedang menjadi atau tidak menjadi pemenang di lomba baca puisi, saat mencoba dadar buatanku, dan saat aku dihadirkan olehnya ke dunia kemudian menjadi bagian dari hidupnya.
Tuhan, tolong berikan kebahagiaan untuk Mama kami yang tercinta, Mama kami yang pandai bercerita. Yang hidupnya selalu dipenuhi oleh humor yang tinggi. yang tak pernah segan memberi usapan lembut di kepalaku. yang mencintai-Mu seperti ia mencintai kami, putra putrinya. yang pandai memasak. yang gemar bercengkerama di latar rumah saat matahari mulai beristirahat. yang dengan binar matanya selalu memandangi kami lembut. yang mencintai buku dan selalu mengajakku (yang kecil) untuk berkeliling ke toko buku setiap akhir pekan, yang menularkan kecintaannya membaca kepadaku. yang mencium kening saat kami, aku dan kakak laki-lakiku, mengunjungi kediamannya yang nyaman dan sejuk, tempat kami tumbuh bersamanya dahulu.
Tuhan, buatlah, agar kami selalu menjadi sumber kebahagiaan sejatinya.
Aku tahu, sekarang Tuhan pasti tersenyum. “Detail sekali permintaan hamba yang satu ini”.
……………………………………………………………………………………….
Happy Mother’s Day, Mama.
Thank you Mom for everything you have done for me and all the support you have given me over the years. I just want to let know how much I appreciate all you have done for me.
God will always be with U.
Amin.


Note :
* Lirik Malaikat juga tahu by Dee

2 komentar:

pemilik kedai mengatakan...

i luph my mom!

Anonim mengatakan...

Yeah...
Boku mo... Toosan no...
Suki desu...