Tampilkan postingan dengan label others. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label others. Tampilkan semua postingan

14.12.08

pulang

“Hendak kemana kau, Perempuan?.”

“Aku akan pulang*, Pak Cik.”

“Pulang kemana?.”

“Aku . . . . “

“Apa dirimu merasa akan kembali kepada apa yang pernah Kau tinggalkan dahulu?.”

“Tidak Pak Cik.”

“Lalu? Hendak kemana Kau, Perempuan?.”

“Aku akan pulang Pak Cik. Menunggu kereta terakhir yang akan membawaku pulang.”

“Tahukah sudah berapa lama Kau tunggu kereta itu?.”

“Tidak. Aku tidak merasa sedang menunggu.”

“Nak, setiap orang harus benar-benar tahu kemana mereka harus menuju. Termasuk Kau, Perempuan.”

“Aku hendak pulang Pak Cik. Aku akan pulang.”

Lama bagi setiap orang yang melihat, namun ia seperti tidak merasa. Ia sudah duduk dibangku stasiun lama sekali. Tatapannya kosong, ia hanya duduk disana memandangi orang yang berlalu lalang, melewatkan kereta-kereta yang datang. Tak jelas kemana ia akan pergi. Tak tahu apa yang dia tunggu dan yang entah kapan datangnya.
Didekap tas-nya erat-erat. Ditangannya, ada selembat tiket sekali jalan.
Tiket tak berwaktu, tanpa tujuan tempat, tanpa no. tempat duduk.
Pada selembar tiket itu hanya tertulis :
‘Kereta Senja’


Akankah kau melihatku
Saatku jauh
Akankah kau merasakan
Kehilanganku
Jiwaku yang telah mati bukan cintaku
Janjiku slalu abadi hanya milikmu
Aku Pergi
dan tak akan kembali
Akhir dari cinta yang abadi

Akankah kau melihatku
Diakhir nanti
Jiwaku yang telah mati bukan cintaku
Janjiku slalu abadi hanya untukmu

Aku pergi dan tak akan kembali
Akhir masa untuk yang abadi
Aku pergi ke alam yang suci
Akhir dari abadi cintaku

(I Love You)

Aku pergi ke alam yang suci
Akhir dari cinta yang abadi


Diiringi lagu ‘Akhir Cinta Abadi’ by Nidji



note :
*
PULANG
kembali kepada keadaan semula; pulang dan pergi (dari suatu tempat ke tempat lain dan dari tempat yang dituju itu kembali ke tempat semula)

15.11.08

had been gone

I have no idea what is going on between my friends at the moment. It makes me sad to see how a friendship torn apart because of an unexplainable cause. It reminds me of how once I had to give up a friendship, and it still hurts just to remember it. I hate giving up a friendship, but sometimes, you just have to. And the situation I’m in right now makes me sad … because a friendship is threatened, and here I am, thinking hard if probably there’s something I could do to save it.
I’ve experienced myself the sadness of seeing a friendship come into an end, and I don’t want to see the same thing happens to my friends. I want to do something to help. But then again, who am I? I’m almost an outsider right now, and probably I have no right to interfere…
It’s hard to see someone suffers and do nothing about it. I want to help … but do I have a capability to help? Or I’ll just make the situation worse? What if I made the wrong move and then...
Then the guilty feeling will haunt me for as long as I live!
I used to tell myself that friendship is a two-way kind of thing. You can’t save a friendship if the others want to call it a quit. You can try all means to save a friendship, but if the others didn’t want to … well, what can you do? You can’t force them to join your struggle, anyhow. And then, it crossed my mind: “What am I doing here? Why am I trying hard to protect our friendship and trying to please them, while they don’t seem to care at all?”
It’s sad to fight for something nobody wants to fight for.
Now, I am scared. Scared because I might have said something wrong, that I have been given a wrong solution to someone else. It’s difficult for me to see they’re drifting away from each other, futher and further every day. It’s sad to know is hurt, and the others don’t realize that. But its never same..
I don’t know whether I’m going to do something about this, or just stay still. I do believe that a true friendship lasts forever; it will never end. And suddenly this thing crossed my mind: probably you can’t save a friendship. All you can do is just stay still and let friendship saves you.

4.11.08

ketika perempuan ingin . . .

Ada saat-saat ketika perempuan ingin…
Perempuan itu ingin duduk, berbicara, tanya pendapat tentang prolog yang dia buat untuk novel yang ketiga,
Perempuan ingin memberi tahu, betapa film Laskar Pelangi itu betul-betul bagus walau tidak pergi menontonnya bersama.
Perempuan ingin bercerita kalau dirinya ternyata tidak lagi sanggup menghabiskan satu porsi ground beef pizza.
Perempuan ingin memperlihatkan hasil potretannya yang terbaru,
Perempuan ingin mengirimkan pesan, perempuan pusing, kelas reading siang ini penuh dengan teks, skimming dan scaning.
Perempuan ingin terus dan terus memberitahunya banyak hal.

Ada banyak tawa, marah, rindu, tangis, beban, senyum yang ingin perempuan bagikan.
Sesungguhnya perempuan ingin mengajak lelaki itu duduk-duduk bersamanya, beralaskan rerumputan hijau, duduk bersisian, walau tanpa kata tanpa suara setidaknya masing-masing masih bisa menikmati segelas kopi dalam cangkir-cangkir tinggi, sementara kita terdiam dengan segelas kopi ditangan.
Namun, terkadang—mungkin lelaki itu tak tahu, ingatan perempuan itu masih sering melayang pada sosok lelaki itu ketika ada perpustakaan dengan jendela besar, taman kota, novel, kemeja biru, pagelaran, mentari, senja . . . . . . . dan lainya.
Perempuan hanya sempat bertanya lelaki itu dalam hati, baik-baik saja kah, dimana disekarang, hingga rasanya hampir dapat merangkum jarak, hingga rasanya yang ada hanya rindu tanpa satuan.

Perempuan hanya tahu, bahwa mereka akan baik-baik saja.
Ya, Si lelaki pasti berbahagia sekarang…
perempuan?? Perempuan lebih bahagia.
Perempuan itu tak berkeberatan seandainya si lelaki hendak meninggalkannya.
Perempuan itu tidak akan mengatakan ‘tidak’ ketika lelaki itu hendak pergi..
Ya sudah. Biarlah.
Tapi Perempuan tidak akan berhenti mendoakannya.